Akan kuceritakan kisah singkat tentang salah satu perjalanan cintaku. Bukan, bukan karena seseorang yang ada dalam ceritaku ini paling istimewa, aku hanya ingin berbagi sedikit cerita saja tentang orang-orang yang pernah singgah dan masuk ke dalam bagian dari hidupku.
Selamat membaca!!!
Kita berkenalan awalnya
disosial media, kita chatting sampai larut malam, dia meminta nomer ponselku,
kemudian obrolan kita berlanjut di-sms. Setiap hari, tak pernah bosan rasanya
saling mengirim pesan singkat,tetapi selalu ada saja bahan obrolan yang memuat aku senyum-senyum sendiri tiap kali membaca pesan singkat darinya. Tak
butuh waktu lama untuk bisa akrab dengannya, kita semakin dekat seolah seperti berpacaran. Ada perasaan suka bahkan lebih dari itu. Perasaan ingin memiliki, memiliki seutuhnya.
"Oh Tuhan...Allahku, sepertinya aku jatuh cinta, iya, jatuh cinta tanpa melihat wajahnya".
Malam itu, dia
mengajakku untuk bertemu dengannya, tanpa berpikir lama, langsung saja
ku-iya-kan. Akhirnya kita bertemu, dia memakai jaket hitam dan menggunakan sepeda motor. Ini adalah pertemuan pertamaku dengannya.
Tak usah tanyakan malam itu perasaanku bagaimana, bahagia? Tentu saja, sangat
amat bahagia.
"Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, akhirnya aku bisa bertemu
dengannya meski waktunya tak lama".
Sepulang kita bertemu,
tiba-tiba ponselku berdering, ternyata itu adalah pesan darinya, aku
jingkrak-jingkrak kegirangan membaca pesan darinya yang mengucapkan kata
terimakasih dan dia bahagia bisa bertemu denganku, katanya. Ah…sungguh manis.
"Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, aku bahagia".
Beberapa hari kemudian,
tiba-tiba dia menyatakan perasaannya kepadaku dan dia bertanya apakah aku mau
menjadi pacarnya. Jantungku berdetak sangat cepat, aku harus
jawab apa? Tentu saja, aku mau, sangat mau menjadi pacarnya. Dan akhirnya kita
berpacaran, “terimakasih karena telah memilih aku jadi wanitamu, sayang”.
"Oh
tuhan…Allahku, lagi-lagi aku bahagia".
Pertemuan kedua,
ketiga, keempat, dan selanjutnya, kita jalani dengan penuh kasih, juga tawa.
Dia selalu menjemputku pulang sekolah, karena kita sekolah di tempat yang
berbeda. Aku selalu diajaknya ke warung kecil yang jadi tempat tongkrongannya dan teman-temannya. Aku tidak pernah diajaknya ke tempat-tempat mahal, aku tidak pernah diajaknya jalan-jalan ke tempat mewah.
Untuk apa tempat mahal dan mewah jika tempat sederhana saja mampu membuatku bahagia.
"Oh Tuhan...Allahku, bagiku, dimanapun,
kapanpun, sesederhana apapun itu, asalkan dengannya, semuanya terasa indah, istimewa, sempurna dan aku selalu bahagia".
Tak terasa, sudah satu
bulan aku berpacaran dengannya. Dibulan pertama, semuanya sangat manis. Tak
pernah ada pertengkaran sedikitpun, selalu baik-baik saja.
“Terimakasih sayang,
hari-hariku lebih indah bersamamu”.
"Oh Tuhan...Allahku, semoga selalu seperti ini, semoga...".
Memasuki bulan kedua,
dia berubah jadi si protektif yang menyeramkan, si pencemburu yang menyebalkan.
Tapi aku tau, aku mengerti, dia begitu karena dia sayang padaku. Aku pernah melakukan
kesalahan yang menurutku spele, tiba-tiba dia jadi berbeda, tak seperti
biasanya, dia sangat kasar padaku, perkataannya sangat melukai hatiku. Itu
adalah pertengkaran pertamaku dengannya dan itu juga adalah pertama kalinya aku
meneteskan airmata untuknya.
"Oh tuhan...Allahku, apakah itu sifat aslinya?".
Pertengakaran itu tak
lama, hubunganku dengannya kembali membaik. Semuanya kembali seperti awal-awal
kita berpacaran, sangat manis bahkan semakin manis dan pastinya romantis.
Pernah suatu hari, tiba-tiba
dia menghilang, tak memberi kabar. Aku mengirim pesan singkat padanya, kemudian
aku menunggu balasan, namun tak ada
satupun balasan darinya. Kemana dia? Sedang apa dan bersama siapa? Aku sangat khawatir, dan
juga rindu. Malamnya, sekitar pukul 9, dia mengabariku. Dia bilang, dia tak ada
pulsa.
"Oh Tuhan...Allahku, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, karena dia baik-baik saja.
Masih dibulan kedua,
hubunganku dengannya mulai retak saat aku tau ternyata selama ini diam-diam dia pernah berkencan dengan wanita lain, dan ternyata sudah dua kali dia
melakukan hal itu. Bagaimana aku bisa tau? Panjang ceritanya, dan tak mungkin
kuceritakan disini.
Langsung kucari tau tentang wanita itu, dan bagaimana bisa kenal dengan pacarku. Suatu hari, kulihat akun twitter wanita itu.
"Oh Tuhan…Allahku, ternyata semua isi
postingannya adalah tentang pacarku".
Waktu itu, perasaanku sangat sedih, marah, kecewa, ahh...sangat kacau, emosiku tidak
stabil hingga akhirnya aku hubungi wanita itu. Aku meminta penjelasan darinya dan tentu saja juga dari pacarku. Apa yang dikatakan dia dengan pacarku
sangatlah berbeda. Lantas, aku harus percaya dengan siapa? Aku bertanya pada
pacarku, mana yang akan dia pilih, aku atau wanita itu? Dan pacarku memilih
untuk bertahan denganku dan meninggalkan wanita itu. Saat itu aku percaya
dengan pacarku, dan menyalahkan semuanya pada wanita itu tanpa tau yang
sebenarnya.
"Oh Tuhan...Allahku, sebenarnya aku terluka tapi aku tidak peduli karena aku mencintainya, aku takut kehilangan cintanya dan aku tak mau pergi meninggalkan".
Wanita itu, bagiku adalah benalu yang harus aku
musnahkan. Aku bertengkar hebat dengan wanita itu, ku sindir-sindir dia
ditwitter, lalu dengan sengaja kuumbar kemesraanku bersama pacarku, agar dia
sadar, bahwa lelaki yang dia cintai itu adalah milikku, pacarku, yang
mencintaiku, dan tidak mencintainya.
Beberapa hari kemudian, akhirnya, aku tau ternyata selama ini
tak seluruhnya wanita itu yang salah, ternyata pacarku lah yang paling salah. Aku kembali bertengkar dengan pacarku, bukannya membuatku tenang, dia malah memperlakukanku sangat kasar.
Seperti permusuhan, aku dan dia tak saling menyapa, tak saling memberi kabar. Hubunganku dengannya belum berakhir, hanya renggang dan jauh.
"Oh Tuhan...Allahku, selama ini aku telah menyerahkan hatiku pada orang yang salah, aku telah mempertahankan orang yang seharusnya bisa aku lepaskan".
Beberapa hari kemudian, dia datang untuk meminta maaf dan katanya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kuterima permintaan maafnya, tapi kali ini sulit untuk diperbaiki agar bisa seperti dulu. Kita masih berpacaran, tapi tak semanis dan seromantis dulu, semuanya terasa hambar.
"Oh Tuhan...Allahku, aku hanya belum ikhlas akan semuanya".
Dan akhir bulan kedua ini, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya,
bukan karena tak cinta lagi, tapi karena keadaan yang memang
mengharuskan aku untuk pergi.
Aku tak mau lagi mempertahankan orang yang hanya
membuat luka tanpa berusaha untuk menyembuhkan.
Aku memang cinta, tapi aku tidak bodoh, untuk
itu cinta juga perlu logika agar ia tidak berjalan kearah yang salah.
Itulah kisah singkatku pada zaman aku sekolah dulu, kisah yang semua perasaan ada didalamnya. Rasa cinta, takut kehilangan, marah, kecewa, dan terluka , semua ada disana.
Terimakasih teruntuk kamu, mantanku, karena sudah memberi bumbu pada adonan kehidupanku.