My Melody 04/01/2016 - 05/01/2016 | Tak Semuanya Tentang Kamu!!!

Pages

Subscribe:
Saya adalah seorang mahasiswi yang mempunyai nama lengkap Siti Komalasari yang suka bercanda, suka selfie, dan masih suka kangen kamu

Minggu, 17 April 2016

Ampuni aku, Tuhan



Tulisanku kali ini bukan kisahku, ini adalah kisah tentang teman kelasku. Dia menulis ini untuk seseorang yang mungkin sudah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi, namun kurombak sedikit tulisannya.
Teruntuk kamu, bundaku, Widiya Sari.
Silahkan, nikmati hasil karyamu!!!

Saat aku berkenalan dengannya, awalnya, kupikir dia sama saja dengan lelaki lain. Tapi, kenyataannya dia berbeda. Dia mandiri, dia ramah, juga tidak sombong. Dia berbeda dengan kebanyakan lelaki lain.

Sebenarnya, aku sudah malas untuk berpacaran lagi karena masa laluku, tapi entah kenapa dia membangkitkan rasa yang sudah lama aku kubur dalam hatiku, rasa seperti awal aku mengenal cinta kembali. Dan kini, kabarnya pun menjadi prioritasku.
Oh Tuhan…aku mulai takut, takut menaruh perasaan dan harapan yang lebih.

Aku tidak ingin terlalu cepat untuk memutuskan aku jatuh cinta. Masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Karena dengan kehati-hatian pun, terkadang masih tetap salah pilih apa lagi dengan terburu-buru. Aku hanya takut melabuhkan hati pada orang yang salah lagi.

Cinta tidak pernah tau kemana ia akan berlabuh, apakah pada orang yang tepat atau orang yang salah. Untuk itu, aku hanya ingin mencintainya secara perlahan, agar aku tau, aku tidak salah pilih dan tidak melabuhkan hati pada orang yang salah.

Perasaan ini, meski sudah ku tahan, tapi hatiku tak dapat lagi membendungnya. Ah…Tuhan, jangan sampai Engkau murka lagi, murka karena aku lebih mencintai makhluk-Mu. Kemudian, Kau jauhkan aku dengannya. Bukalah hati dan pikirannya agar dia juga jauh dari murka-Mu.

Tuhan, ampuni aku, karena aku sudah menjadikannya salah satu bagian yang selalu kusebut dalam setiap doaku. Tolong jangan beri aku hukuman atas apa yang aku lakukan saat ini. Aku akan berusaha memperbaiki diri dengan mencintainya karena-Mu.

Tuhan, aku tau, Engkau adalah pemilik hati yang sesungguhnya, untuk itu, maafkan aku…maafkan kami…maafkan segalanya.

Sabtu, 09 April 2016

Kisah Singkat

Akan kuceritakan kisah singkat tentang  salah satu perjalanan cintaku. Bukan, bukan karena seseorang yang ada dalam ceritaku ini paling istimewa, aku hanya ingin berbagi sedikit cerita saja tentang orang-orang yang pernah singgah dan masuk ke dalam bagian dari hidupku.
Selamat membaca!!!

Kita berkenalan awalnya disosial media, kita chatting sampai larut malam, dia meminta nomer ponselku, kemudian obrolan kita berlanjut di-sms. Setiap hari, tak pernah bosan rasanya saling mengirim pesan singkat,tetapi selalu ada saja bahan obrolan yang memuat aku senyum-senyum sendiri tiap kali membaca pesan singkat darinya. Tak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengannya, kita semakin dekat seolah seperti berpacaran. Ada perasaan suka bahkan lebih dari itu. Perasaan ingin memiliki, memiliki seutuhnya.
"Oh Tuhan...Allahku, sepertinya aku jatuh cinta, iya, jatuh cinta tanpa melihat wajahnya".

Malam itu, dia mengajakku untuk bertemu dengannya, tanpa berpikir lama, langsung saja ku-iya-kan. Akhirnya kita bertemu, dia memakai jaket hitam dan menggunakan sepeda motor. Ini adalah pertemuan pertamaku dengannya. Tak usah tanyakan malam itu perasaanku bagaimana, bahagia? Tentu saja, sangat amat bahagia. 
"Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, akhirnya aku bisa bertemu dengannya meski waktunya tak lama".

Sepulang kita bertemu, tiba-tiba ponselku berdering, ternyata itu adalah pesan darinya, aku jingkrak-jingkrak kegirangan membaca pesan darinya yang mengucapkan kata terimakasih dan dia bahagia bisa bertemu denganku, katanya. Ah…sungguh manis.
 "Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, aku bahagia".

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba dia menyatakan perasaannya kepadaku dan dia bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya. Jantungku berdetak sangat cepat, aku harus jawab apa? Tentu saja, aku mau, sangat mau menjadi pacarnya. Dan akhirnya kita berpacaran, “terimakasih karena telah memilih aku jadi wanitamu, sayang”. 
"Oh tuhan…Allahku, lagi-lagi aku bahagia".

Pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya, kita jalani dengan penuh kasih, juga tawa. Dia selalu menjemputku pulang sekolah, karena kita sekolah di tempat yang berbeda. Aku selalu diajaknya ke warung kecil yang jadi tempat tongkrongannya dan teman-temannya. Aku tidak pernah diajaknya ke tempat-tempat mahal, aku tidak pernah diajaknya jalan-jalan ke tempat mewah.
Untuk apa tempat mahal dan mewah jika tempat sederhana saja mampu membuatku bahagia.

"Oh Tuhan...Allahku, bagiku, dimanapun, kapanpun, sesederhana apapun itu, asalkan dengannya, semuanya terasa indah, istimewa, sempurna dan aku selalu bahagia".

Tak terasa, sudah satu bulan aku berpacaran dengannya. Dibulan pertama, semuanya sangat manis. Tak pernah ada pertengkaran sedikitpun, selalu baik-baik saja. 
“Terimakasih sayang, hari-hariku lebih indah bersamamu”.
"Oh Tuhan...Allahku, semoga selalu seperti ini, semoga...".

Memasuki bulan kedua, dia berubah jadi si protektif yang menyeramkan, si pencemburu yang menyebalkan.
Tapi aku tau, aku mengerti, dia begitu karena dia sayang padaku. Aku pernah melakukan kesalahan yang menurutku spele, tiba-tiba dia jadi berbeda, tak seperti biasanya, dia sangat kasar padaku, perkataannya sangat melukai hatiku. Itu adalah pertengkaran pertamaku dengannya dan itu juga adalah pertama kalinya aku meneteskan airmata untuknya. 

"Oh tuhan...Allahku, apakah itu sifat aslinya?".

Pertengakaran itu tak lama, hubunganku dengannya kembali membaik. Semuanya kembali seperti awal-awal kita berpacaran, sangat manis bahkan semakin manis dan pastinya romantis.
Pernah suatu hari, tiba-tiba dia menghilang, tak memberi kabar. Aku mengirim pesan singkat padanya, kemudian aku menunggu balasan,  namun tak ada satupun balasan darinya. Kemana dia? Sedang apa dan bersama siapa? Aku sangat khawatir, dan juga rindu. Malamnya, sekitar pukul 9, dia mengabariku. Dia bilang, dia tak ada pulsa.
"Oh Tuhan...Allahku,  akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, karena dia baik-baik saja.

Masih dibulan kedua, hubunganku dengannya mulai retak saat aku tau ternyata selama ini diam-diam dia pernah berkencan dengan wanita lain, dan ternyata sudah dua kali dia melakukan hal itu. Bagaimana aku bisa tau? Panjang ceritanya, dan tak mungkin kuceritakan disini.
Langsung kucari tau tentang wanita itu, dan bagaimana bisa kenal dengan pacarku. Suatu hari, kulihat akun twitter wanita itu.
"Oh Tuhan…Allahku, ternyata semua isi postingannya adalah tentang pacarku".

Waktu itu, perasaanku sangat sedih, marah, kecewa, ahh...sangat kacau, emosiku tidak stabil hingga akhirnya aku hubungi wanita itu. Aku meminta penjelasan darinya dan tentu saja juga dari pacarku. Apa yang dikatakan dia dengan pacarku sangatlah berbeda. Lantas, aku harus percaya dengan siapa? Aku bertanya pada pacarku, mana yang akan dia pilih, aku atau wanita itu? Dan pacarku memilih untuk bertahan denganku dan meninggalkan wanita itu. Saat itu aku percaya dengan pacarku, dan menyalahkan semuanya pada wanita itu tanpa tau yang sebenarnya. 
"Oh Tuhan...Allahku,  sebenarnya aku terluka tapi aku tidak peduli karena aku mencintainya, aku takut kehilangan cintanya dan aku tak mau pergi meninggalkan".

Wanita itu, bagiku adalah benalu yang harus aku musnahkan. Aku bertengkar hebat dengan wanita itu, ku sindir-sindir dia ditwitter, lalu dengan sengaja kuumbar kemesraanku bersama pacarku, agar dia sadar, bahwa lelaki yang dia cintai itu adalah milikku, pacarku, yang mencintaiku, dan tidak mencintainya.
Beberapa hari kemudian, akhirnya, aku tau ternyata selama ini tak seluruhnya wanita itu yang salah, ternyata pacarku lah yang paling salah. Aku kembali bertengkar dengan pacarku, bukannya membuatku tenang, dia malah memperlakukanku sangat kasar. 
Seperti permusuhan, aku dan dia tak saling menyapa, tak saling memberi kabar. Hubunganku dengannya belum berakhir, hanya renggang dan jauh.
"Oh Tuhan...Allahku, selama ini aku telah menyerahkan hatiku pada orang yang salah, aku telah mempertahankan orang yang seharusnya bisa aku lepaskan".

Beberapa hari kemudian, dia datang untuk meminta maaf dan katanya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kuterima permintaan maafnya, tapi kali ini sulit untuk diperbaiki agar bisa seperti dulu. Kita masih berpacaran, tapi tak semanis dan seromantis dulu, semuanya terasa hambar.
"Oh Tuhan...Allahku, aku hanya belum ikhlas akan semuanya".










Dan akhir bulan kedua ini, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya, bukan karena tak cinta lagi, tapi karena keadaan yang memang mengharuskan aku untuk pergi. 

Aku tak mau lagi mempertahankan orang yang hanya membuat luka tanpa berusaha untuk menyembuhkan. 

Aku memang cinta, tapi aku tidak bodoh, untuk itu cinta juga perlu logika agar ia tidak berjalan kearah yang salah.

Itulah kisah singkatku pada zaman aku sekolah dulu, kisah yang semua perasaan ada didalamnya. Rasa cinta, takut kehilangan, marah, kecewa, dan terluka , semua ada disana.

Terimakasih teruntuk kamu, mantanku, karena sudah memberi bumbu pada adonan kehidupanku.
 

Rabu, 06 April 2016

Takut



Semenjak aku mengenalmu, ada perasaan berbeda, perasaan yang tak seperti biasanya.
 
Kamu adalah penenang disaat hati mulai gelisah, kamu adalah penguat disaat aku benar-benar merasa rapuh, kamu adalah pelengkap diatas kurangku, dan kamu adalah bahagiaku. Kamu sudah menja
di bagian dari hidupku.

Disaat aku jatuh cinta, aku harus siap untuk kecewa.
Disaat aku tertawa, aku harus siap untuk meneteskan airmata.
Disaat aku bahagia, aku juga harus siap untuk terluka.

Kamu telah memberi warna dikehidupanku, hingga semuanya terasa sempurna. Kamu berhasil untuk membuat aku jatuh cinta dan kamu juga berhasil untuk membuat aku takut akan segalanya. Iya, aku takut kamu berbeda, aku takut kamu berubah, aku takut warna itu pudar hingga tak ada lagi warna, dan aku takut kamu pergi meninggalkan.

Aku tau, semua orang pasti bisa berubah. Entah itu karena keadaan atau paksaan.
Semua orang akan meninggalkan, entah karena kecewa atau menemukan yang lebih baik. Untuk itu, aku takut tidak bisa membuatmu bertahan lebih lama.

Bagiku, tak ada yang lebih buruk dari kehilangan. Kehilangan adalah hal yang paling aku benci, dan kehilangan kamu adalah hal yang paling mengerikan. Karena aku sudah kehilangan bagian dari hidupku, aku takut tidak sanggup untuk mencari, dan aku takut tidak bisa untuk menemukan kembali.

Hal yang menyangkut kamu, apapun itu, Demi Tuhan, Allahku. Aku sungguh benar-benar takut, takut akan semuanya.
Powered By Blogger
Terimakasih telah sudi meluangkan waktunya hanya untuk membaca tulisan saya yang masih berantakan ini