Seharusnya
cinta itu indah, tapi kenyataannya hanya membuat pedih.
Bagiku cinta itu tak indah atau aku jatuh cinta pada orang yang salah? Lantas, untuk apa aku mepertahankan cinta yang seperti ini jika melepaskan jauh lebih melegakan.
Selama ini, terus saja kusimpan rasa kecewa hingga akhirnya sampai pada puncaknya, aku menyerah. Menyerah untuk tetap bertahan dengan kamu yang selalu menyepelekan kabar, kamu yang tak pernah punya waktu untuk bertemu, tapi selalu ada waktu untuk bersenang-senang dengan kawan-kawanmu, hingga akhirnya aku sadar, aku bukanlah prioritasmu.
Bukan, bukan aku ingin selalu dikasih kabar, tapi apa salahnya meluangkan sedikit waktu untuk mengirim teks walau sekedar menyapa. Kamu tau, alasan aku tidak pernah menghubungimu terlebih dahulu kenapa? Karena aku wanita, yang bila tidak diberi kabar, aku hanya bisa menunggu. Dan aku tak mau mengganggu waktu senangmu.
Kamu bilang, aku cuek, padahal sebenarnya aku begitu sangat peduli, sangat merindu. Tak pernah tertinggal dipengujung sholatku untuk menyelipkan namamu setelah kedua orangtuaku.
Aku telah memberikan separuh dari hatiku untukmu, dan separuhnya aku simpan agar aku masih tetap hidup setelah tak ada kamu.Tidak, tanpamu aku masih tetap hidup, hanya saja mungkin tak akan seindah dulu.
Kini, logikaku yang memilih untuk pergi, meski hati sebenarnya ingin tetap tinggal.
Terimakasih sudah mau-maunya mengenalku. Terimakasih sudah sudi meluangkan waktunya untuk kenal lebih dekat denganku.
Doakan, agar aku selalu baik-baik saja seperti sebelum aku mengenal kamu dan mampu menjalani semuanya sendiri, tanpa bantuanmu, tanpa dirimu.
Bagiku cinta itu tak indah atau aku jatuh cinta pada orang yang salah? Lantas, untuk apa aku mepertahankan cinta yang seperti ini jika melepaskan jauh lebih melegakan.
Selama ini, terus saja kusimpan rasa kecewa hingga akhirnya sampai pada puncaknya, aku menyerah. Menyerah untuk tetap bertahan dengan kamu yang selalu menyepelekan kabar, kamu yang tak pernah punya waktu untuk bertemu, tapi selalu ada waktu untuk bersenang-senang dengan kawan-kawanmu, hingga akhirnya aku sadar, aku bukanlah prioritasmu.
Bukan, bukan aku ingin selalu dikasih kabar, tapi apa salahnya meluangkan sedikit waktu untuk mengirim teks walau sekedar menyapa. Kamu tau, alasan aku tidak pernah menghubungimu terlebih dahulu kenapa? Karena aku wanita, yang bila tidak diberi kabar, aku hanya bisa menunggu. Dan aku tak mau mengganggu waktu senangmu.
Kamu bilang, aku cuek, padahal sebenarnya aku begitu sangat peduli, sangat merindu. Tak pernah tertinggal dipengujung sholatku untuk menyelipkan namamu setelah kedua orangtuaku.
Aku telah memberikan separuh dari hatiku untukmu, dan separuhnya aku simpan agar aku masih tetap hidup setelah tak ada kamu.Tidak, tanpamu aku masih tetap hidup, hanya saja mungkin tak akan seindah dulu.
Kini, logikaku yang memilih untuk pergi, meski hati sebenarnya ingin tetap tinggal.
Terimakasih sudah mau-maunya mengenalku. Terimakasih sudah sudi meluangkan waktunya untuk kenal lebih dekat denganku.
Doakan, agar aku selalu baik-baik saja seperti sebelum aku mengenal kamu dan mampu menjalani semuanya sendiri, tanpa bantuanmu, tanpa dirimu.






0 komentar:
Posting Komentar