My Melody Kisah Singkat | Tak Semuanya Tentang Kamu!!!

Pages

Subscribe:
Saya adalah seorang mahasiswi yang mempunyai nama lengkap Siti Komalasari yang suka bercanda, suka selfie, dan masih suka kangen kamu

Sabtu, 09 April 2016

Kisah Singkat

Akan kuceritakan kisah singkat tentang  salah satu perjalanan cintaku. Bukan, bukan karena seseorang yang ada dalam ceritaku ini paling istimewa, aku hanya ingin berbagi sedikit cerita saja tentang orang-orang yang pernah singgah dan masuk ke dalam bagian dari hidupku.
Selamat membaca!!!

Kita berkenalan awalnya disosial media, kita chatting sampai larut malam, dia meminta nomer ponselku, kemudian obrolan kita berlanjut di-sms. Setiap hari, tak pernah bosan rasanya saling mengirim pesan singkat,tetapi selalu ada saja bahan obrolan yang memuat aku senyum-senyum sendiri tiap kali membaca pesan singkat darinya. Tak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengannya, kita semakin dekat seolah seperti berpacaran. Ada perasaan suka bahkan lebih dari itu. Perasaan ingin memiliki, memiliki seutuhnya.
"Oh Tuhan...Allahku, sepertinya aku jatuh cinta, iya, jatuh cinta tanpa melihat wajahnya".

Malam itu, dia mengajakku untuk bertemu dengannya, tanpa berpikir lama, langsung saja ku-iya-kan. Akhirnya kita bertemu, dia memakai jaket hitam dan menggunakan sepeda motor. Ini adalah pertemuan pertamaku dengannya. Tak usah tanyakan malam itu perasaanku bagaimana, bahagia? Tentu saja, sangat amat bahagia. 
"Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, akhirnya aku bisa bertemu dengannya meski waktunya tak lama".

Sepulang kita bertemu, tiba-tiba ponselku berdering, ternyata itu adalah pesan darinya, aku jingkrak-jingkrak kegirangan membaca pesan darinya yang mengucapkan kata terimakasih dan dia bahagia bisa bertemu denganku, katanya. Ah…sungguh manis.
 "Oh Tuhan...Allahku, terimakasih, aku bahagia".

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba dia menyatakan perasaannya kepadaku dan dia bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya. Jantungku berdetak sangat cepat, aku harus jawab apa? Tentu saja, aku mau, sangat mau menjadi pacarnya. Dan akhirnya kita berpacaran, “terimakasih karena telah memilih aku jadi wanitamu, sayang”. 
"Oh tuhan…Allahku, lagi-lagi aku bahagia".

Pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya, kita jalani dengan penuh kasih, juga tawa. Dia selalu menjemputku pulang sekolah, karena kita sekolah di tempat yang berbeda. Aku selalu diajaknya ke warung kecil yang jadi tempat tongkrongannya dan teman-temannya. Aku tidak pernah diajaknya ke tempat-tempat mahal, aku tidak pernah diajaknya jalan-jalan ke tempat mewah.
Untuk apa tempat mahal dan mewah jika tempat sederhana saja mampu membuatku bahagia.

"Oh Tuhan...Allahku, bagiku, dimanapun, kapanpun, sesederhana apapun itu, asalkan dengannya, semuanya terasa indah, istimewa, sempurna dan aku selalu bahagia".

Tak terasa, sudah satu bulan aku berpacaran dengannya. Dibulan pertama, semuanya sangat manis. Tak pernah ada pertengkaran sedikitpun, selalu baik-baik saja. 
“Terimakasih sayang, hari-hariku lebih indah bersamamu”.
"Oh Tuhan...Allahku, semoga selalu seperti ini, semoga...".

Memasuki bulan kedua, dia berubah jadi si protektif yang menyeramkan, si pencemburu yang menyebalkan.
Tapi aku tau, aku mengerti, dia begitu karena dia sayang padaku. Aku pernah melakukan kesalahan yang menurutku spele, tiba-tiba dia jadi berbeda, tak seperti biasanya, dia sangat kasar padaku, perkataannya sangat melukai hatiku. Itu adalah pertengkaran pertamaku dengannya dan itu juga adalah pertama kalinya aku meneteskan airmata untuknya. 

"Oh tuhan...Allahku, apakah itu sifat aslinya?".

Pertengakaran itu tak lama, hubunganku dengannya kembali membaik. Semuanya kembali seperti awal-awal kita berpacaran, sangat manis bahkan semakin manis dan pastinya romantis.
Pernah suatu hari, tiba-tiba dia menghilang, tak memberi kabar. Aku mengirim pesan singkat padanya, kemudian aku menunggu balasan,  namun tak ada satupun balasan darinya. Kemana dia? Sedang apa dan bersama siapa? Aku sangat khawatir, dan juga rindu. Malamnya, sekitar pukul 9, dia mengabariku. Dia bilang, dia tak ada pulsa.
"Oh Tuhan...Allahku,  akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, karena dia baik-baik saja.

Masih dibulan kedua, hubunganku dengannya mulai retak saat aku tau ternyata selama ini diam-diam dia pernah berkencan dengan wanita lain, dan ternyata sudah dua kali dia melakukan hal itu. Bagaimana aku bisa tau? Panjang ceritanya, dan tak mungkin kuceritakan disini.
Langsung kucari tau tentang wanita itu, dan bagaimana bisa kenal dengan pacarku. Suatu hari, kulihat akun twitter wanita itu.
"Oh Tuhan…Allahku, ternyata semua isi postingannya adalah tentang pacarku".

Waktu itu, perasaanku sangat sedih, marah, kecewa, ahh...sangat kacau, emosiku tidak stabil hingga akhirnya aku hubungi wanita itu. Aku meminta penjelasan darinya dan tentu saja juga dari pacarku. Apa yang dikatakan dia dengan pacarku sangatlah berbeda. Lantas, aku harus percaya dengan siapa? Aku bertanya pada pacarku, mana yang akan dia pilih, aku atau wanita itu? Dan pacarku memilih untuk bertahan denganku dan meninggalkan wanita itu. Saat itu aku percaya dengan pacarku, dan menyalahkan semuanya pada wanita itu tanpa tau yang sebenarnya. 
"Oh Tuhan...Allahku,  sebenarnya aku terluka tapi aku tidak peduli karena aku mencintainya, aku takut kehilangan cintanya dan aku tak mau pergi meninggalkan".

Wanita itu, bagiku adalah benalu yang harus aku musnahkan. Aku bertengkar hebat dengan wanita itu, ku sindir-sindir dia ditwitter, lalu dengan sengaja kuumbar kemesraanku bersama pacarku, agar dia sadar, bahwa lelaki yang dia cintai itu adalah milikku, pacarku, yang mencintaiku, dan tidak mencintainya.
Beberapa hari kemudian, akhirnya, aku tau ternyata selama ini tak seluruhnya wanita itu yang salah, ternyata pacarku lah yang paling salah. Aku kembali bertengkar dengan pacarku, bukannya membuatku tenang, dia malah memperlakukanku sangat kasar. 
Seperti permusuhan, aku dan dia tak saling menyapa, tak saling memberi kabar. Hubunganku dengannya belum berakhir, hanya renggang dan jauh.
"Oh Tuhan...Allahku, selama ini aku telah menyerahkan hatiku pada orang yang salah, aku telah mempertahankan orang yang seharusnya bisa aku lepaskan".

Beberapa hari kemudian, dia datang untuk meminta maaf dan katanya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kuterima permintaan maafnya, tapi kali ini sulit untuk diperbaiki agar bisa seperti dulu. Kita masih berpacaran, tapi tak semanis dan seromantis dulu, semuanya terasa hambar.
"Oh Tuhan...Allahku, aku hanya belum ikhlas akan semuanya".










Dan akhir bulan kedua ini, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya, bukan karena tak cinta lagi, tapi karena keadaan yang memang mengharuskan aku untuk pergi. 

Aku tak mau lagi mempertahankan orang yang hanya membuat luka tanpa berusaha untuk menyembuhkan. 

Aku memang cinta, tapi aku tidak bodoh, untuk itu cinta juga perlu logika agar ia tidak berjalan kearah yang salah.

Itulah kisah singkatku pada zaman aku sekolah dulu, kisah yang semua perasaan ada didalamnya. Rasa cinta, takut kehilangan, marah, kecewa, dan terluka , semua ada disana.

Terimakasih teruntuk kamu, mantanku, karena sudah memberi bumbu pada adonan kehidupanku.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger
Terimakasih telah sudi meluangkan waktunya hanya untuk membaca tulisan saya yang masih berantakan ini