Tulisanku kali ini bukan kisahku, ini adalah kisah tentang teman kelasku. Dia menulis ini untuk seseorang yang mungkin sudah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi, namun kurombak sedikit tulisannya.
Teruntuk kamu, bundaku, Widiya Sari.
Silahkan, nikmati hasil karyamu!!!
Saat aku
berkenalan dengannya, awalnya, kupikir dia sama saja dengan lelaki lain. Tapi,
kenyataannya dia berbeda. Dia mandiri, dia ramah, juga tidak sombong. Dia
berbeda dengan kebanyakan lelaki lain.
Sebenarnya,
aku sudah malas untuk berpacaran lagi karena masa laluku, tapi entah kenapa dia
membangkitkan rasa yang sudah lama aku kubur dalam hatiku, rasa seperti awal
aku mengenal cinta kembali. Dan kini, kabarnya pun menjadi prioritasku.
Oh Tuhan…aku mulai takut, takut menaruh perasaan dan harapan yang lebih.
Oh Tuhan…aku mulai takut, takut menaruh perasaan dan harapan yang lebih.
Aku
tidak ingin terlalu cepat untuk memutuskan aku jatuh cinta. Masih banyak hal
yang harus aku pertimbangkan. Karena dengan kehati-hatian pun, terkadang masih
tetap salah pilih apa lagi dengan terburu-buru. Aku hanya takut melabuhkan hati
pada orang yang salah lagi.
Cinta
tidak pernah tau kemana ia akan berlabuh, apakah pada orang yang tepat atau
orang yang salah. Untuk itu, aku hanya ingin mencintainya secara perlahan, agar
aku tau, aku tidak salah pilih dan tidak melabuhkan hati pada orang yang salah.
Perasaan
ini, meski sudah ku tahan, tapi hatiku tak dapat lagi membendungnya. Ah…Tuhan,
jangan sampai Engkau murka lagi, murka karena aku lebih mencintai makhluk-Mu.
Kemudian, Kau jauhkan aku dengannya. Bukalah hati dan pikirannya agar dia juga
jauh dari murka-Mu.
Tuhan, ampuni aku, karena aku sudah menjadikannya salah satu bagian yang selalu kusebut dalam setiap doaku. Tolong jangan beri aku hukuman atas apa yang aku lakukan saat ini. Aku akan berusaha memperbaiki diri dengan mencintainya karena-Mu.
Tuhan, aku tau, Engkau adalah pemilik hati yang sesungguhnya, untuk itu, maafkan aku…maafkan kami…maafkan segalanya.
Tuhan, ampuni aku, karena aku sudah menjadikannya salah satu bagian yang selalu kusebut dalam setiap doaku. Tolong jangan beri aku hukuman atas apa yang aku lakukan saat ini. Aku akan berusaha memperbaiki diri dengan mencintainya karena-Mu.
Tuhan, aku tau, Engkau adalah pemilik hati yang sesungguhnya, untuk itu, maafkan aku…maafkan kami…maafkan segalanya.






0 komentar:
Posting Komentar